Jadikan Ibu Siami Teladan Kejujuran dalam Pendidikan di Sumatera Barat dan Indonesia
Ada wacana menarik mengemuka akhir-akhir ini (Juni 2011) bahwasanya semakin jelas terlihat budaya kejujuran sudah mulai menghilang dari kehidupan rakyat Indonesia. Saat para mahasiswa beramai-ramai berdemo hingga menumpahkan darah bahkan mengorbankan jiwa, ternyata sebagian besar rakyat justru terlena dengan budaya kapitalisme yang dilandasi oleh korupsi, kolusi dan nepotisme – dimana hal tersebut menjadi dasar reformasi.
Saat para mahasiswa berkorban nyawa, ternyata rakyat tidak berubah, saat mahasiswa menuntut pemangku jabatan untuk berperilaku jujur, ternyata rakyatnya justru mendorong ketidakjujuran. Budaya malu memang sudah menghilang bahkan hingga lapisan masyarakat paling bawah.
Kejadian nyata terlihat dari perilaku Ibu Siami yang denga berani untuk mengungkapkan kejujuran namun kejujuran itu dianggap sebagai kesalahan, bahkan sebagai aib bagi masyarakat. Di era reformasi ini setiap orang yang berusaha jujur akan langsung tergerus, terhancurkan, tersingkirkan kehidupannya dari tatanan masyarakat. Lihatlah banyak “whistle blower” kasus korupsi yang sekarang justru di bui, bagaimana semangat seorang Antasari Azhar justru dimentahkan oleh mafia peradilan tingkat tinggi, dan bagaimana pula mereka yang bisa memberikan kejujuran lebih banyak di hadapan hukum justru mendapatkan hukuman paling berat.











